


Koleksi Pustaka Perempuan Aman
Edisi kedua Ina Tana memperlihatkan bahwa Perempuan Adat bukan sekadar penerima dampak pembangunan, melainkan pelaku utama yang mempertahankan wilayah adat, menjaga pengetahuan, membangun kemandirian ekonomi, dan merebut ruang pengambilan keputusan. Kisahnya mencakup perlawanan terhadap pembangunan Waduk Lambo, ketika delapan Perempuan Adat berdiri di garis depan menghadapi pemerintah dan aparat, keterlibatan 35 Perempuan Adat dalam Kongres BPRPI, hingga pengelolaan kebun kolektif dengan sekitar 4.000 batang singkong yang menghasilkan Rp1,5 juta untuk menopang organisasi. Buletin ini menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan hanya mungkin terjadi ketika wilayah, pengetahuan, otoritas, dan kepemimpinan Perempuan Adat diakui dan dilindungi.
Gunakan mouse untuk membalik halaman atau klik pada sudut dokumen.