PEREMPUAN AMAN and The Wiyi Yani U Thangani (Australian National University) Strengthen Cross-Country Indigenous Women’s Solidarity through the Sustainability Knowledge Exchange Program

Bogor & Tano Batak, 25–28 Agustus 2025 — Sebagai langkah nyata memperkuat solidaritas lintas negara dan kepemimpinan Perempuan Adat, PEREMPUAN AMAN bekerja sama dengan The Wiyi Yani U Thangani Institute for First Nations Gender Justice (The Australian National University) menyelenggarakan Program Pertukaran Pengetahuan Keberlanjutan Perempuan Adat (Indigenous Women’s Sustainability Knowledge Exchange Program) di Bogor dan Tano Batak, Sumatera Utara.

Kegiatan ini mempertemukan Perempuan Adat Aborigin dengan PEREMPUAN AMAN secara online dan proses tatap muka dengan anggota dari Wilayah Pengorganisasian PEREMPUAN AMAN Sihaporas dan Dolok Parmonangan. Program yang disiapkan sejak Maret 2025 ini bertujuan memperkuat inisiatif pengorganisasian Perempuan Adat, membuka ruang partisipasi dalam isu pengetahuan keberlanjutan, serta membangun jejaring advokasi dan dokumentasi pengetahuan Perempuan Adat untuk menghadapi perubahan iklim dan kebijakan pembangunan global.

Hari Pertama: Pengenalan dan Penguatan Gerakan Perempuan Adat

Kegiatan hari pertama di Sekretariat Nasional PEREMPUAN AMAN di Bogor dibuka oleh Ketua Umum PEREMPUAN AMAN, Devi Anggraini, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan Adat. Dilanjutkan dengan pemaparan sejarah berdirinya PEREMPUAN AMAN, struktur organisasi, dan fokus kerja sebagai organisasi gerakan Perempuan Adat yang mencakup penguatan ekonomi, kepemimpinan, dan kebijakan yang merujuk pada kepentingan dan hak-hak individu dan kolektif.

Perempuan Adat Aborigin dari Australia berbagi pengalaman perjuangan dalam menghadapi dampak kolonialisme, ketimpangan gender, serta upaya membangun kembali kepemimpinan Perempuan Adat dalam isu iklim dan hak tanah. Proses berbagi telah menunjukkan kesamaan tantangan yang dihadapi Perempuan Adat di kedua negara, mulai dari penghancuran sejarah dan kehidupan sebagai Masyarakat Adat, hingga minimnya pengakuan hukum terhadap hak-hak masyarakat adat, dan patriarki. Devi menekankan bahwa pertemuan berbagi dan belajar bersama menjadi langkah awal memperkuat solidaritas Perempuan Adat lintas benua untuk memastikan kehidupan berkelanjutan dan kesetaraan.

Hari Kedua: Dialog Pengetahuan, Advokasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan Kepemimpinan Perempuan Adat

Hari kedua difokuskan pada proses berbagi seputar pengetahuan Perempuan Adat, pengalaman advokasi hak-hak Perempuan Adat dalam SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), dan kepemimpinan Perempuan Adat. Sesi diskusi selama hari kedua menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pengetahuan bahkan trauma antara Perempuan Adat Nusantara dan Perempuan Adat Aborigin di Australia dalam Workshop Indigenous Women’s Sustainability Knowledge Exchange Program. Ketua Umum PEREMPUAN AMAN menghantarkan penjelasan mengenai peran Perempuan Adat sebagai penjaga pengetahuan, pengelola sumber kehidupan, dan pemelihara budaya yang sering terpinggirkan akibat patriarki dan sistem pembangunan yang ekstraktif. Ia menekankan strategi organisasi dalam memperkuat posisi Perempuan Adat melalui penyediaan data terpilah berdasarkan etnis, gender, umur dengan menggunakan tema kemandirian, ekonomi, pendidikan politik, dan krisis sosial ekologis di wilayah adat dalam perspektif Perempuan Adat. Diskusi berkembang pada tantangan politik, patriarki, dan keterbatasan ruang representasi, dimana PEREMPUAN AMAN memilih memperkuat kepemimpinan di tingkat komunitas dibanding jalur parta

Banok Rind dari The Wiyi Yani U Thangani Institute membagikan pengalaman Perempuan Adat Aborigin dalam membangun kembali ruang kepemimpinan pascakolonial melalui program Caring for Country dan Cycles of Care yang menjelaskan konsep “Care is Power”— bahwa merawat tanah, keluarga, dan komunitas merupakan bentuk kepemimpinan dan kekuatan Perempuan Adat.

Sesi siang menghadirkan praktek nyata dari berbagai Perempuan Adat di Indonesia, seperti Ibayauw dan Ayapo di Papua, Isam di Halmahera, Sihaporas dan Dolok Parmonangan di Tano Batak, yang menghadirkan keteguhan dan ketangguhan Perempuan Adat dalam melawan perampasan tanah, kriminalisasi, dan kerusakan lingkungan dan memperkuat solidaritas. Praktik dan pengalaman yang memperlihatkan Perempuan Adat telah menjadi tulang punggung gerakan sosial, menggunakan pengetahuan dan pengalaman sehari-hari secara politis.

Perempuan Adat Aborigin menanggapi dengan berbagi pengalaman serupa tentang trauma kolonial, pemisahan anak-anak dari keluarga bahkan diculik, penghancuran sejarah, perampasan wilayah adat, serta perjuangan untuk pengakuan yang lebih adil melalui Komisi Kebenaran dan kebijakan “Closing the Gap” mengatasi diskriminasi yang dialami. Perempuan Adat Aborigin telah dijauhkan dari wilayah adatnya, dihapuskan ingatan mengenai identitas diri sebagai aborigin. Mereka menyoroti bahwa pengakuan hukum tidak otomatis berarti keadilan, karena diskriminasi struktural terhadap masyarakat adat masih terus berlangsung. Namun, semangat Perempuan Adat Aborigin untuk memulihkan budaya dan bahasa leluhur menjadi peran dan sumber kekuatan dalam membangun kembali identitas sebagai komunitas Masyarakat Adat.

Dari pertukaran ini muncul refleksi bersama bahwa Perempuan Adat di kedua negara menghadapi luka dan tantangan serupa akibat kolonialisme, namun juga memiliki kekuatan yang sama besar dalam merawat kehidupan, meneguhkan identitas, dan memulihkan hubungan dengan tanah serta leluhur. Sesi ini menegaskan pentingnya solidaritas lintas bangsa dan generasi untuk memperkuat gerakan Perempuan Adat dalam memperjuangkan keadilan sosial, pengakuan, dan keberlanjutan hidup masyarakat adat di tingkat lokal maupun global.

Kunjungan Komunitas di Tano Batak: Merajut Tuturan dan Perjuangan

Rabu, 27 Agustus 2025 delegasi Perempuan Adat Aborigin, PW AMAN Tano Batak, dan PEREMPUAN AMAN mengadakan makan malam dan diskusi bersama di Niagara Hotel, Tano Batak. Dalam suasana hangat, kedua pihak berbagi tentang budaya, sejarah kolonialisme, serta perjuangan Perempuan Adat di masing-masing negara, sekaligus menegaskan pentingnya pemulihan bahasa, pelestarian pengetahuan leluhur, dan solidaritas lintas bangsa. 

Keesokan harinya, 28 Agustus, menjadi puncak kegiatan dengan kunjungan komunitas ke Komunitas Adat Sihaporas dan Dolok Parmonangan. Dalam kunjungan ini, Perempuan Adat dua negara saling bertukar pengalaman tentang situasi terkini di komunitas, perlawanan atas penghancuran kehidupan, merawat semangat perjuangan yang tidak bisa dipatahkan meski berdarah-darah, dipenjarakan, dan menghadapi trauma. Dalam situasi terburuk, Perempuan Adat masih terus mengupayakan menjaga pengetahuan leluhur dan sumber penghidupan bagi generasi mendatang. Salah satu delegasi Perempuan Adat Aborigin menyampaikan, “We actually share the same story — only the language is different.” (Kita sebenarnya memiliki kisah yang sama — hanya bahasanya saja yang berbeda)

Pernyataan itu menggambarkan semangat utama kegiatan ini: bahwa meski berasal dari dua benua berbeda, Perempuan Adat di Indonesia dan Aborigin di Australia telah berbagi sejarah, perjuangan, bahkan luka dan trauma serta mimpi untuk mewujudkan masa depan kehidupan yang berkelanjutan, adil, setara, dan berdaulat bagi masyarakat adat di seluruh dunia.

Scroll to Top